Setelah menikah saya masih tetap dirumah, mencoba mengisi waktu dengan memberikan les pada teman2 adik dan juga anak tetangga kami waktu siang
Kehidupan pernikahan berumur 4 bulan saya belum juga hamil dan saya mencoba melamar pekerjaan karena dirumah saja selama 6 bulan cukup membuat bosan.
Akhirnya saya diterima di salah satu perusahaan perdagangan, suami menyetujui saya bekerja kembali.
Setiap jadwal period datang saya selalu harap2 cemas, berharap period tidak datang. Tapi period saya selalu tepat waktu. Tidak pernah terlambat.
Ingin memeriksa ke dokter kandungan kondisi keuangan kami waktu itu blm memungkinkan jadi saya mulai usaha saya dalam rangka untuk hamil dengan mendatangi tukang urut.
Ibu tukang urut ini tinggal dekat rumah, ada tetanggaku yang menunggu 3 tahun akhirnya bisa hamil setelah diurut oleh beliau. Dengan harapan yang sama saya berminta untuk mencoba.
Saat diurut rasanya lumayan sakit, ibu tukang urut bilang rahimnya bagus dan sehat.
Alhamdulillah lega rasanya namun saya pikir kenapa belum hamil2 juga sampai dengan setahun pernikahan saya.
Ditahun kedua saya pindah rumah kontrakan, ditahun kedua ini saya sering sakit2an. Maag sering kambuh. Dalam sebulan bisa 2 kali saya sakit. Mungkin karena saya terlalu memikirkan kenapa saya masih belum hamil juga. Seperti layaknya rumah tangga umumnya, kerap ditemui masalah2 yang menambah pikiran2 saya. Mungkin ini juga yang membuat saya sering sakit2an.
Karena seringnya saya sakit2an membuat kami tidak sempat untuk meluangkan waktu berobat untuk kehamilan.
Ditahun ketiga pernikahan kami, kondisi kesehatan saya lebih baik dari tahun kedua namun suami saya terkena DBD sehingga harus dirawat di RS. Ditahun ini pikiran dan emosi kami sangat lelah karena ditahun ini kami mulai kredit rumah. Saya pertama kali mendatangi dokter kandungan. Telat memang tapi mau gimana lagi keadaan kemarin2 kurang kondusif.
Dokter pertama yang saya datangi adalah dokter yang praktek di komplek tetangga. Dokter USG saya dan mengatakan kondisi rahim baik, lalu dokter memberikan rujukan untuk HSG dan suami cek sperma tanpa banyak bertanya mengenai period saya.
Suami kurang sreg dengan dokter pertama karena menurutnya kurang komunikatif.
Kami coba ganti dokter yang direferensikan tetangga, dan dokter kedua ini langsung memvonis saya miom 7 cm setelah USG dan harus dilakukan operasi. Saya sangat kaget mendengar vonis dokter. Mengapa dokter pertama tidak menemukan miom itu sewaktu USG.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar